• Panah Kirana

Artificial Intelligence: Saingan Otak Manusia

sumber gambar: google.com

PANAH KIRANA – Sejak dulu, manusia sudah memimpikan banyak hal melalui imajinasi. Mulai dari keinginan manusia untuk dapat berpindah tempat menggunakan bermacam mode transportasi, terbang di angkasa, berkomunikasi jarak jauh, dan sebagainya. Penemuan-penemuan manusia terjadi melalui proses inovasi, evolusi, dan modifikasi. Penemuan telegraf oleh Samuel Morse dan telepon oleh Alexander Graham Bell telah membuktikan bahwa manusia dapat berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan sinyal elektrik yang dipancarkan dari satu titik ke titik lainnya. Penemuan ini juga telah mendorong Charles Babbage dalam menciptakan Analytical Engine pada tahun 1837, yang sekarang dianggap sebagai ‘nenek-moyang’ dari mesin komputer modern yang dipakai saat ini.

Penyempurnaan serta evolusi dari Analytical Engine telah menciptakan berbagai perangkat elektronik masa kini yang tentunya tidak asing lagi, seperti komputer, ponsel pintar, dan juga tablet elektronik. Komputer memiliki fungsi sederhana, yaitu mengolah data dengan menggunakan prosedur dalam bentuk kode yang telah dirumuskan atau diprogram secara manual sebagai acuan dalam mengolah data. Pada mulanya, komputer merupakan sebuah mesin yang diciptakan untuk memecahkan perhitungan aritmetika, akan tetapi seiring berjalannya waktu, komputer tidak lagi hanya digunakan untuk matematika, melainkan untuk menyimpan data digital, mencari informasi melalui internet, mendengarkan musik, menonton film, dan sebagainya. Pola atau rumusan yang terdapat di dalam komponen komputer merupakan pola buatan yang dirumuskan oleh manusia dan diinput ke dalam sistem sehingga ketika komputer diperintahkan untuk mengolah data, komputer dapat melakukannya secara otomatis, dengan rumusan yang ada. Hal ini merupakan cikal bakal dari kecerdasan buatan, atau yang lebih dikenal secara global sebagai Artificial Intelligence.

Kata artificial merupakan sebuah kosakata bahasa Inggris yang diartikan sebagai ‘tiruan’ atau ‘buatan’, bahkan dapat diartikan sebagai ‘palsu’. Intelligence atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai ‘intelijen’ dapat diintepretasikan sebagai ‘kepintaran’ atau ‘kecerdasan’. Artificial Intelligence atau yang biasa disingkat sebagai “AI”, ditemukan melalui proses evolusi yang panjang, hingga menciptakan polemik tersendiri tentang orang pertama yang menemukan mesin cikal bakal AI. Secara historis, penciptaan AI terjadi karena penyempurnaan serta penemuan mesin-mesin yang berhubungan dengan AI. Akan tetapi, penemuan Turing Test pada tahun 1950 oleh Alan Turing, orang berkebangsaan Inggris yang berjasa dalam memecahkan kode Enigma yang dipakai oleh Nazi saat Perang Dunia II, menjadi salah satu kontributor penting dalam sejarah penemuan AI modern. Turing Test merupakan sebuah teori yang menguji kepintaran sebuah mesin. Melalui Turing Test, sebuah mesin dapat dikaitkan intelijen jika mesin tersebut dapat mengimitasikan input yang dirumuskan oleh manusia, dan memberikan output yang tidak dapat dibedakan oleh user atau pengguna.

Setelah Turing Test, beberapa ilmuwan dari Carnegie Mellon University (“CMU”), Massachusetts Institute of Technology (“MIT”) dan perusahaan komputer International Business Machine (“IBM”) sepakat untuk melakukan riset pada tahun 1956 yang didanai oleh pemerintah Amerika Serikat dan Inggris Raya. Bahkan ekonom terkemuka dari Amerika Serikat, Herbert A. Simon mengatakan: “Mesin tersebut (AI) akan berfungsi dalam 20 tahun, dan mampu menjalankan pekerjaan apapun yang manusia lakukan.” Akan tetapi, pada tahun 1971 kedua pemerintah tersebut menghentikan pendanaannya terhadap riset AI, yang menyebabkan berhentinya riset tersebut. Hal ini disebabkan oleh minimnya hasil yang telah dicapai, serta kompleksitas dalam menciptakan AI yang hampir tidak mungkin dapat diselesaikan oleh para ilmuwan tersebut pada saat itu.

Beberapa tahun setelah riset AI diberhentikan, riset AI kembali lagi diadakan dan kali ini, ilmuwan berhasil menciptakan sebuah expert system yang bernama Synthesis of Integral Design (“SID”). SID mampu melakukan perhitungan dan mengalahkan para ahli-ahli matematika dalam tiga jam. Akan tetapi, pengembangan SID terpaksa harus dihentikan karena masalah finansial, serta pengusaan pasar Teknologi Informasi oleh kompetitor produsen komputer desktop seperti Apple, Inc dan IBM. Pada tahun 1997, sebuah komputer canggih yang diciptakan oleh IBM, Deep Blue menjadi komputer pertama yang dapat mengalahkan Juara Catur Dunia, Garry Kasparov. Deep Blue mengalahkan Kasparov setelah 6 pertandingan. Deepblue memilik sistem yang mampu mempelajari pola permainan, memperhitungkan 20 langkah kemungkinan,

AI dapat ditemukan di banyak sistem atau platform yang sering kita gunakan. AI dapat dengan mudah ditemukan di dalam gim baik offline maupun online. Pada tahun 2013, sebuah riset AI yang bernama DeepMind, telah menciptakan sebuah AI yang mampu memainkan beberapa permainan klasik seperti Pacman dan Space Invaders, dari Atari Games, perusahaan gim Amerika Serikat, diatas level kepintaran manusia. Di tahun 2015, AI yang lebih canggih pun diciptakan, dan mampu memainkan 49 gim dari Atari Games secara otomatis. Masih berlanjut, DeepMind juga mengembangkan dan menciptakan AI baru yang mampu memainkan gim-gim yang lebih kompleks seperti Starcraft 2.

AI juga dapat ditemukan di salah satu sistem gim simulasi olahraga sepak bola terkemuka, FIFA 19. AI dapat digunakan dalam mode permainan single player. Contohnya, jika pemain masuk dalam mode permainan single player, pemain akan melawan AI sebagai lawan bermain dari pemain itu sendiri, dan pemain dapat memilih level atau difficulty dari AI tersebut. Cara kerja AI tidak jauh berbeda dengan sistem yang terdapat di dalam Deep Blue dan DeepMind. AI akan mempelajari pola permainan pemain tersebut (manusia), dan dapat memperhitungkan gerakan-gerakan kemungkinan yang akan pemain lakukan.

Selain gim, AI juga digunakan di platform media hiburan seperti Spotify dan Netflix. Netflix menggunakan AI untuk memberikan dan menyuguhkan rekomendasi film-film sejenis yang sering ditonton oleh pengguna, begitu juga dengan Spotify. Sederhananya, AI yang digunakan oleh Spotify dan Netflix dapat memprediksi dan mempelajari jenis film dan musik favorit pengguna. Bagi pengguna smartphone jenis iPhone yang diproduksi oleh Apple Inc, AI dapat ditemukan di sistem Siri, yakni sistem perintah suara yang dapat memproses serta memprogram apa saja yang pengguna perintahkan melalui perintah suara. Di negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, para ilmuwan sedang mengembangkan AI di bidang lain seperti bidang kesehatan.

Meskipun AI telah ditemukan, AI belum mampu menandingi kemampuan otak manusia secara umum, karena AI hanya mampu untuk menjadi ahli dalam satu bidang, salah satu contohnya AI yang ahli dalam permainan. Namun, sampai saat ini belum ada Artificial General Intelligence atau AGI. AGI dapat diartikan sebagai kecerdasan umum buatan, yang berarti kecerdasan tersebut dapat menyamakan manusia lebih dari satu bidang keahlian, atau bahkan menandingi kemampuan berpikir manusia serta kemampuan dalam merumuskan masalah. AI merupakan penemuan yang sangat berguna bagi manusia, namun penemuan AI dapat menjadi bumerang bagi manusia, yakni pencipta AI itu sendiri, karena tanpa disadari, penemuan AI sudah dapat menggantikan beberapa pekerjaan manusia. Dapat diprediksi bahwa di masa depan, jika penggunaan AI tidak dikontrol dengan baik, AI dapat menjadi ancaman serius bagi umat manusia. Perkembangan Teknologi merupakan hal sangat baik dan fungsional bagi kehidupan manusia, namun harus tetap sejalan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dengan menerapkan sistem kontrol yang baik.

0 views
 

©2020 by Panah Kirana. Proudly created with Wix.com