• Vania Madeline Jevera & Miriam Millen Mulyana

Joe Biden Ungguli Donald Trump : Biden Siap ke Gedung Putih?

Updated: Nov 23


Jurnal Presisi

Pemilihan umum untuk menentukan Presiden Amerika Serikat 2020-2024 menjadi topik perbincangan hangat di media sosial, dua calon presiden yang bertarung yaitu petahana Donald Trump, mewakili Partai Republik dan Joe Biden mewakili Partai Demokrat. Pemilihan presiden dilaksanakan pada tanggal 3 November 2020. Sebab pandemi COVID-19, pemilihan suara di Amerika Serikat kali ini dilakukan melalui surat atau mail-in voting.


Hasil perhitungan suara sementara Pemilu Amerika Serikat menunjukkan calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden semakin mendekati kemenangan. Akan tetapi, Donald Trump masih memiliki peluang yang cukup besar di beberapa negara bagian. Masih ada kemungkinan akan terjadinya comeback dari sang presiden Amerika kini. Menurut pembuka hitungan Bloomberg dan The Guardian, hingga Kamis (5/11/2020) pukul 06.30 WIB, Joe Biden unggul sementara dengan 264 suara elektoral, sedangkan Donald Trump memperoleh 214 suara elektoral. Perolehan suara Biden saat ini mencapai 71.232.015 suara, unggul sekitar 3 juta suara dari Trump yang memperoleh 68.266.183 suara.


Perolehan suara yang berarti bagi Biden ini berkat kemenangannya di Michigan dan memperoleh 16 suara elektoral. Michigan diketahui menjadi lumbung suara Donald Trump dalam pemilu sebelumnya. Tidak terima dengan hasil suaranya yang ketinggalan jauh dari Joe Biden, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kemarahannya lewat kicauan (tweet) via akun twitter miliknya. Donald Trump menyerukan perhitungan suara Pilpres dihentikan dan menuduh adanya Penipuan Pemilih dan Penipuan Pemilu Negara Bagian oleh karena itu Donald Trump menegaskan gugatan hukum akan diajukan tim legalnya terhadap hasil penghitungan di beberapa negara bagian yang memenangkan Biden.


Catatan Penting Sistem Pemilihan Presiden di Amerika Serikat :


1. Bukan Pemilihan Langsung

Pilpres Amerika Serikat memiliki sistem pemilihan tidak langsung (indirect election). Artinya, ketika masyarakat Amerika Serikat datang ke tempat pemungutan suara mereka sebenarnya memilih orang-orang yang akan duduk dalam electoral college. Para elektro inilah yang membawa amanat negara bagian mereka untuk kemudian memilih calon presiden.

2. Electoral College

Ketika warga Amerika Serikat datang ke Tempat Pemilihan Suara (TPS), mereka sebenarnya memilih sekelompok pejabat yang akan menduduki Electoral College. Kata “College” di sini bermakna sekelompok orang dengan tugas bersama. Orang-orang ini disebut electors, dan tugasnya adalah memilih presiden serta wakil presiden. Total anggota electoral college berjumlah 538 orang. Setiap negara memiliki jumlah elektor yang berbeda berdasarkan jumlah perwakilan mereka di Kongres (anggota DPR dan senator). Perhitungan itu berdasarkan sensus setiap 10 Tahun.

3. Faktor 270

Calon Presiden butuh minimal 270 suara elektoral untuk memenangkan kursi kepresidenan.

4. Bisa Memilih Lebih Awal

Donald Trump dan Joe Biden sudah memilih lebih awal. Itu bisa terjadi di Sistem Amerika Serikat. Hal itu disebut absentee voting atau mail-in voting. Situs Vote.org menjelaskan bahwa absentee voting dapat dilakukan jika seseorang tak bisa mencoblos pada Hari-H baik itu karena sakit, tinggal di luar negeri, atau faktor pekerjaan. Mereka bisa datang langsung untuk mencoblos atau meminta mendapat surat suara agar dikirim lewat pos. Perlu diketahui bahwa tiap negara bagian punya aturan berbeda mengenai ini. Absentee voting dan mail-in voting ini menjadi polemik di tengah pandemi COVID-19. Donald Trump menyebut pencoblosan lewat surat berpotensi mengakibatkan kecurangan.


Kebijakan Donald Trump dan Joe Biden jika terpilih sebagai Presiden AS 2020 bertolak belakang


Pertama, kebijakan kesehatan Joe Biden vs Donald Trump adalah program medicare dan medicaid. Medicare sendiri adalah asuransi kesehatan bagi warga Amerika yang berusia lebih dari 65 tahun atau mengalami keterbatasan fisik.Sedangkan, medicaid merupakan program layanan kesehatan 100% bagi masyarakat miskin di Amerika. Kedua hal ini menjadi adalah program kesehatan negara yang melindungi 115 juta warga Amerika.


Dalam program ini, Donald Trump diketahui ingin mengalihkan pengelolaan kepada sektor swasta dan menyerahkan kendali pada negara bagian. Kemudian untuk medicare, ia berencana menurunkan biaya obat yang ditanggung pemerintah dalam Medicare. Selain itu, Donald Trump juga ingin memangkas pengeluaran untuk medicaid dan orang-orang yang perlu ditanggung.


Sementara, Joe Biden diketahui berencana memperluas kriteria warga yang layak mendapatkan medicare dan medicaid. Adapun, medicareboleh didapatkan bagi warga Amerika yang berusia 60 tahun. Hal itu juga dilakukan oleh Joe Biden sambil membuat program kesehatan baru.


Kedua, Affordable Care Act (ACA) merupakan asuransi nasional di bidang kesehatan. Dengan adanya ACA ini, seluruh masyarakat memungkinkan memiliki akses kesehatan dan bisa menekan risiko malapraktik.


Menurut Wakil Presiden Eksekutif untuk kebijakan kesehatan di Kaiser Family Foundation, Larry Levitt Donald Trump berusaha untuk menghentikan ACA. Sedangkan, Biden ingin mendorong kebijakan ini dengan membangun dan memperluasnya.


Adapun, ACA yang digagas pertama kali oleh Presiden Barack Obama. Dalam salah satu poinnya, peserta dengan kondisi bawaan bisa mendapat perlindungan dan tidak perlu membayar mahal.


Ketiga, Dalam kebijakannya Joe Biden menaikkan pajak, sedangkan Donald Trump menurunkan pajak. Joe Biden memberi stimulus besar sedangkan Donald Trump memberi stimulus kecil. Joe Biden mendukung green energy,sedangkan Donald Trump tidak memiliki rencana infrastruktur.


Dampak Kemenangan Jika terpilihnya Donald Trump dan Joe Biden sebagai Presiden AS 2020 terhadap Ekonomi Indonesia


Siapa pun yang menang baik Donald Trump maupun Joe Biden akan menentukan kebijakan AS yang akan berdampak pada ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Data situs The Global Economy mencatat AS memegang porsi 24,14% dari PDB dunia per 2018 alias nomor 1 di dunia.


Ekonomi Trimegah , Fakhrul Fulfian menyatakan sedikitnya ada dua pokok kebijakan AS yang akan berpengaruh bagi Indonesia, yaitu:


Pertama kebijakan pajak. Menurut Fakhrul, kemenangan Joe Biden akan berdampak pada kenaikan tarif pajak korporasi di AS dari 21% menjadi 28%. Kebijakan ini membalikkan langkah Donald Trump di periode pertama yang menurunkan tarif pajak maksimum korporasi dari 35% ke 21%. Bila Joe Biden menang, maka akan terjadi perpindahan aliran modal dari AS ke negara berkembang.


Fakhrul memperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu yang kecipratan cukup banyak. Peningkatan aliran modal portofolio akan memberi angin segar bagi pasar saham di Indonesia dan dampaknya pada IHSG akan terasa seketika di tahun 2020. Derasnya portofolio dapat memberi penguatan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek dan meringankan beban pembayaran utang Indonesia sekaligus kebutuhan impor.


Sementara aliran modal dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) akan mendorong peningkatan investasi dalam bentuk perpindahan perusahaan. Jika FDI tepat sasaran, dapat mendorong pembukaan lapangan kerja di Indonesia. Sementara Jika Donald Trump menang perpindahan aliran modal tidak terjadi. Mereka menetap di Amerika.


Kedua, soal kebijakan luar negeri. Kemenangan Joe Biden mungkin merombak AS lebih terbuka dibanding Donald Trump dengan motonya “America First”. Kebijakan Trump di periode pertama berakibat keluarnya AS dari organisasi kerja sama perdagangan internasional seperti Trans-Pacific Partnership (TPP). Donald Trump bahkan hampir membatalkan North American Free Trade Agreement meski akhirnya berujung renegosiasi ulang.


Ditambah lagi, Donald Trump mewariskan perang dagang AS-Cina yang terjadi sejak 2017 hingga saat ini. Data WTO menunjukan akibatnya. Pertumbuhan perdagangan dunia merosot dari 4,7% (2017) menjadi 3% (2018) lalu terkontraksi 0,1% (2019). Pertumbuhan PDB dunia juga ikut melambat dari 3% (2017) menjadi 2,9% (2018) dan 2,3% (2019).


Bank Dunia mencatat porsi perdagangan Indonesia terhadap PDB hanya 37,3% per 2019. Badan Pusat Statistik mencatat porsi ekspor Indonesia per 2019 hanya 18,41% PDB. Angka itu jauh di bawah konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi, 56,62%. Artinya, keputusan Presiden AS terpilih tidak banyak memiliki pengaruh karena ekonomi Indonesia sangat erat dengan kebijakan domestik. Meski demikian, dampak terpilihnya Joe Biden pada perbaikan perdagangan dunia bisa dimanfaatkan.


Syaratnya pemerintah Indonesia mampu meningkatkan pertumbuhan perdagangan menjadi 9,8% per tahun. Andai jika Donal Trump yang terpilih kembali maka tensi perang dagang berlanjut, situasi ini sedikit buruk, tetapi Indonesia tetap memiliki peluang. Pasalnya AS baru saja mengabulkan perpanjangan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) yang merupakan pembebasan bea masuk bagi ekspor Indonesia.


Siapapun yang terpilih sebagai Presiden Amerika 2020, baik Donald Trump maupun Joe Biden semoga bisa menjalankan kebijakan dalam janji kampanyenya dengan sebenar-benarnya, sehingga kebijakan tersebut dapat membawa pengaruh yang lebih baik lagi untuk Amerika Serikat dan Dunia dikedepannya.

13 views
 

©2020 by Panah Kirana. Proudly created with Wix.com