• Panah Kirana

Lima Wanita untuk Seluruh Perempuan di Indonesia

Seiring kemajuan zaman, cara berpikir dan hidup manusia pun idealnya juga turut maju. Hal ini disadari oleh semakin banyak perempuan dan wanita di seluruh dunia—termasuk di Indonesia—yang berjuang melawan diskriminasi dan marginalisasi yang mereka alami di tengah masyarakat yang secara umum masih cenderung patriarkis dan memandang wanita lebih rendah dari pria. Mereka bukannya ingin untuk menjadi “lebih” daripada laki-laki—yang masih disalahpahami banyak orang—melainkan untuk melawan perlakuan tidak adil yang dialami wanita dan mencapai kesetaraan gender. Perjuangan ini dapat mengambil banyak bentuk, dan salah satunya merupakan penyelenggaraan seminar-seminar edukatif. Itulah yang dilakukan oleh Yayasan Mandiri Kreatif Indonesia (Yamakindo) dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPH yang bekerja sama untuk mengadakan seminar bertema “Perempuan dan Kapabilitasnya”, pada hari Sabtu, 7 September 2019 di Kampus UPH. 

Acara kolaboratif ini mengundang lima super women Indonesia yang aktif memberdayakan wanita-wanita lainnya melalui bidang mereka masing-masing. Latar belakang mereka beragam—ada yang menjadi juara kedua di sebuah kontes kecantikan berskala nasional, dan ada pula yang semula menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI). Tamu undangan pada seminar tersebut, yakni Agatha Aurelia (Runner-Up Puteri Indonesia 2019), Budi Wahyuni (Wakil Ketua KOMNAS Perempuan), Evi Mariani (Managing Editor di The Jakarta Post), Okky Asokawati (Direktur Perusahaan dan Anggota DPR-RI Komisi IX dari 2009-2018), dan Yohana S. Yembise (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia ke-9). Selain itu, dua dosen dari Fakultas Hukum (FH) UPH, Velliana Tanaya dan Laurenzia Luna, diberikan kesempatan untuk menjadi moderator acara. 

Seminar ini dibagi menjadi dua sesi besar: yang pertama menghadirkan Budi Wahyuni dan Yohana Yembise selaku pembicara, dan Velliana Tanaya selaku moderator. Sesi kedua diisi oleh Agatha Aurelia, Evi Mariani, dan Okky Wahyuni sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Laurenzia Luna. Sebagai pembuka acara, Jonathan L. Parapak selaku rektor dari UPH dan ketua pembina Yamindo, Marinus Gea, memberikan kata sambutan. Panggung dan suasana ruangan sebelum memasuki sesi pertama terlebih dahulu dihangatkan oleh penampilan drum yang dibawakan oleh Josephine Gea, putri Marinus.

Sesi pertama membahas fakta-fakta yang berkaitan dengan ketimpangan gender di Indonesia yang masih kuat, masalah-masalah yang dihadapi perempuan, serta apa yang bisa dilakukan, baik yang sudah maupun yang belum. Di Indonesia, kaum perempuan masih sering mengalami kekerasan, marginalisasi, subordinasi, dan pelabelan stereotip buruk. Selain masalah ini datang dari masyarakat, banyak dari para perempuan sendiri yang masih takut untuk melaporkan kekerasan dan diskriminasi dan dialaminya, atau bahkan merasa bahwa mereka ‘pantas’ untuk direndahkan akibat gender mereka. Banyak juga perempuan yang sudah belajar ke perguruan tinggi namun pada akhirnya hanya di bidang domestik meskipun memiliki kemampuan dan kemauan untuk bekerja. Selain membahas masalah-masalah yang dihadapi, kedua pembicara juga memaparkan usaha yang sudah ada untuk memberdayakan perempuan dan apa yang bisa ditingkatkan. Sekarang, ada sejumlah program yang membantu korban-korban kekerasan, memediasi pelaku kekerasan dan korban, dan menanamkan nilai-nilai anti kekerasan dan diskriminasi agar para wanita tidak hanya ‘menerima’ perlakuan-perlakuan diskriminatif. Sebagai kesimpulan, Yohana mengatakan bahwa kunci mencapai kesetaraan gender adalah sharing kekuasaan dan saling menghormati. 

Setelah sesi pertama usai, tim Panah Kirana sempat menanyakan Budi tentang tanggapannya mengenai perempuan-perempuan yang masih memiliki mindset bahwa karena mereka ‘hanya perempuan’, mereka tidak perlu susah-susah belajar, bekerja, dan tinggal pasrah menikah dengan pria yang kaya. Budi pun membalas, “Artinya program-program pemberdayaan kita terhadap perempuan belum seperti yang diharapkan. Sebab, sebetulnya yang ingin kita estafetkan itu pemberdayaan sampai perempuan ini punya nilai-nilai, prinsip-prinsip yang tidak bisa dinegosiasikan. Nilai-nilai tanpa kekerasan, tanpa didiskriminasi, ada kesetaraan, ada sharing, seperti itu. Saya selalu mengatakan, sehat psikis, fisik, sosial. Jadi kalau kemudian dia punya cita-cita, ‘aku ingin menikah saja dengan laki-laki yang kaya’, sebetulnya sih ga salah, cuman persoalannya ada apa dibalik itu? Jangan-jangan gara-gara dia kaya, kita tidak berdaya, ga bisa dong? Boleh kok jadi orang kaya, tapi tetap ada proses, kita punya prinsip untuk berani mengambil keputusan ‘tidak!’ kalau itu merugikan pada perempuan itu sendiri. Jadi, kalau ada orang yang punya mindset seperti itu, tidak bisa disalahkan, orang lingkungannya masih kayak gini! Inget ya, kultur, berarti kita semua, struktur, berarti para pengambil kebijakan termasuk aparat penegak hukum, dan substansi kebijakan. Tiga itu tetap harus kita kawal, supaya perempuan benar-benar berdaya pada dirinya, minimal pada tubuhnya.”

Di mana sesi pertama mendatangkan dua wanita yang karirnya cukup berdekatan, sesi kedua mengundang para pembicara dengan latar belakang profesi yang lebih beragam. Perbincangan berwarna di sesi ini mencakup pembahasan mengenai pekerjaan, mulai dari apa yang seorang perempuan dapat lakukan untuk memasuki dunia usaha dan politik, serta apa yang bisa diusahakan baik oleh perempuan sendiri maupun lingkungan untuk membuat lingkungan kerja lebih aman dan kondusif untuk wanita. Selain membahas pekerjaan, ada pula pertukaran pikiran mengenai inner-beauty, self-security, depresi yang dapat muncul dari membandingkan diri dan merasa diri tidak cukup, dan tentunya, cara-cara untuk mendukung para wanita yang ada di sekitar kita. 

Acara Yamakindo dan BEM UPH ini lebih dari talkshow biasa. Untuk menguji perhatian dan daya ingat para peserta, sebuah kuis berdasarkan topik sesi kedua diselenggarakan dan mereka yang menjawab dengan benar mendapatkan hadiah. Pemberian bingkisan dari panitia tidak berhenti disitu—mereka yang tinggal sampai akhir acara juga berkesempatan untuk mendapatkan blender, rice cooker, dan doorprize menarik lainnya. Tidak lupa pula Yamakindo dan BEM UPH memberikan kesempatan bagi para wanita untuk melihat dan belanja produk-produk kecantikan dari Mustika Ratu, salah satu sponsor dari acara ini. 

Sebelum meninggalkan lokasi, Budi Wahyuni mengungkapkan, “Saya apresiasi sekali dengan kegiatan ini, karena bisa membuka wawasan teman-teman.” Budi pun berharap semua hadirin akan aktif “siapkan situasi yang menjadikan perempuan bersifat kritis, bisa lebih asertif pada situasi-situasi yang tidak menguntungkan kepada dia, dan itulah pemberdayaan.” 

Di akhir acara, tim Panah Kirana juga sempat berbincang secara singkat dengan Okky Asokawati, yang memiliki pesan khusus untuk para mahasiswa FH UPH mengenai hal-hal yang bisa dilakukan untuk memberdayakan wanita melalui hukum. Okky Asokawati berpesan, “Mungkin untuk mahasiswa UPH Hukum, bisa ikut mengawal atau belajar pembentukan rancangan Undang-Undang di DPR yaitu KUHP. Itukan sedang mengalami revisi. Nah mungkin bisa ikut terlibat di dalam pembentukan Undang-Undang itu dengan cara datang ke DPR sebagai fraksi balkon, duduk di balkon dan lihat, seperti apa sidang-sidang di DPR komisi III misalnya, ataupun di dalem proses pembuatan perundang-undangan KUHP. Itu salah satunya. Juga mungkin bisa mengawal kasus-kasus yang berhubungan dengan perempuan dan juga mendukungnya.” 

0 views
 

©2020 by Panah Kirana. Proudly created with Wix.com