• Panah Kirana

Mengenal Lebih Dalam Tentang Match Fixing Dalam Sepak Bola

sumber gambar: google.com

PANAH KIRANA – Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga paling populer di dunia. Bagaimana tidak? Lebih dari 3,5 miliar penduduk di dunia telah menyaksikan laga final antara Perancis melawan Kroasia, yang digelar di Moskwa, Rusia, pada 15 Juli 2018 silam. Laga pertandingan sepak bola lainnya seperti Premiere League, yakni liga sepak bola papan teratas di Inggris, telah menjadi liga sepak bola yang memiliki penonton terbanyak di dunia, yakni sekitar 4.2 miliar orang, dan memiliki hak siar yang tersebar di 156 negara. Indonesia sendiri memiliki liga sepak bola nasional yang dikenal dengan Liga 1 sebagai liga sepak bola teratas, dan diikuti juga oleh Liga 2 dan Liga 3. Liga 1 Indonesia juga menjadi salah satu ajang yang memiliki jumlah penonton yang fantastis. Contohnya, pada musim 2018/2019, Persebaya Surabaya berhasil menarik 485,231 penonton untuk menyaksikan pertandingan laga kandang Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Hal ini membuktikan bahwa sepak bola merupakan ajang olahraga yang sangat digemari dan ditunggu-tunggu orang-orang diseluruh dunia.


Jumlah penonton yang besar telah membuat sepak bola menjadi ladang pundi-pundi uang bagi klub, liga, dan orang-orang yang berkecimpung di dunia sepak bola. Banyaknya jumlah penonton sepak bola telah membawa keuntungan bagi klub-klub sepak bola dalam jumlah besar. Contohnya, di Premiere League musim 2016/2017, total pendapatan dari 20 klub sepak bola yang tergabung dalam Premiere League melebihi 4.5 miliar poundsterling, atau setara dengan 81 triliun rupiah. Industri sepak bola yang besar dan menguntungkan ini telah menarik banyak pihak untuk dapat berinvestasi di sepak bola, salah satunya perusahaan-perusahaan perjudian di dunia yang telah menjadikan sepak bola sebagai salah satu ajang olahraga yang dapat dipertaruhkan. Perusahaan perjudian tidak dilegalkan di Indonesia, namun berbeda dengan di Eropa dan beberapa negara maju lainnya, perjudian justru diperbolehkan, dan berdiri sebagai perusahaan atau badan hukum di negara tersebut. Beberapa contoh perusahaan perjudian atau “betting company” yang terkemuka di dunia adalah BWIN, Betfair, Bet365, 888sport, dan SkyBet.


Sistem perjudian di dalam sepak bola pun sebenarnya tidak rumit. Perjudian dalam sepak bola intinya tidak hanya mempertaruhkan menang-kalahnya pertandingan, namun juga melalui skor yang diperoleh melalui pertandingan, dan ditentukan oleh sistem handicapped dan odds. Dalam pertandingan yang bersih dan tidak diatur, skor yang diperoleh oleh kedua klub yang bertanding sepenuhnya tergantung oleh permainan kedua klub, dan juga kondisi-kondisi yang mempengaruhi performa kedua klub tersebut. Akan tetapi, karena skor sangat berpengaruh dalam perjudian sepak bola, skor juga dapat diatur dalam perjudian, dan oknum-oknum terkait akan melakukan segala cara untuk mengatur skor demi memperuntungkan perusahaan perjudian. Pengaturan skor ini secara luas dikenal sebagai Match Fixing.


Match Fixing atau pengaturan skor adalah sebuah aktifitas dan upaya tidak jujur dan melanggar hukum, untuk memastikan bahwa satu tim akan memenangkan pertandingan tertentu. Pada dasarnya, pengaturan skor berbeda dengan perilaku curang. Di dalam pengaturan skor, ada pihak yang setuju untuk kalah, imbang, atau memenangkan pihak lawan, sedangkan curang dalam sepak bola merupakan suatu perbuatan yang tidak diatur (not organized, not arranged), dan biasanya dilakukan oleh perorangan. Contohnya, anggota tim sepak bola menggunakan doping, atau secara sengaja melanggar peraturan pertandingan untuk mendapatkan keuntungan.


Pengaturan skor di dalam sepak bola dibagi menjadi dua kategori, yaitu Arranged Match-Fixing, dan Gambling Match-Fixing. Di dalam Arranged Match-Fixing, biasanya oknum tertentu akan memanipulasi pertandingan atau menyogok para pihak yang bertanding untuk tidak bermain dengan performa yang maksimal, untuk memastikan salah satu tim imbang, menang, atau kalah dalam pertandingan. Berbeda dengan Gambling Match-Fixing, oknum tertentu akan melakukan segala upaya untuk memanipulasi pertandingan demi menguntungkan bandar judi, perusahaan perjudian, atau penjudi yang bertaruh dalam jumlah besar di pasar taruhan. Intinya, kedua jenis pengaturan skor tersebut sama-sama menguntungkan diri sendiri, melanggar peraturan olahraga, hukum, dan sportivitas dalam olahraga.


Pengaturan skor dapat terjadi di semua jenis cabang olahraga seperti cricket, hockey, basketball, baseball, Formula 1, dan cabang-cabang olahraga lainnya. Pengaturan skor dalam sepak bola dapat terjadi dimana pun, termasuk di liga sepak bola Indonesia, maupun di liga sepak bola Eropa yang tergolong lebih maju dalam hal sepak bola. Namun pengaturan skor bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, dan bukan hanya sekedar menyogok pemain seperti penjaga gawang atau defender, dan wasit dalam suatu pertandingan.


Dalam kasus Arranged Match-Fixing, biasanya pengaturan skor akan dilakukan oleh “orang dalam” atau bagian internal dari klub yang akan mengatur pertandingan. Hal ini terjadi pada Marseille, klub sepak bola Perancis di Ligue 1 (liga sepak bola papan teratas di Perancis) pada tahun 1993 silam. Pada saat itu, Marseille harus menghadapi A.C Milan di ajang Final UEFA Champions League 1993. Namun sebelum menghadapi A.C Milan, Marseille harus menghadapi pertandingan final di Ligue 1 melawan Valenciennes F.C. Demi menjaga kondisi dan performa para pemain tetap prima untuk menghadapi A.C Milan, Presiden Klub Marseille Bernard Tapie, menyuruh salah satu pemainnya untuk menyogok tiga key players Valenciennes F.C. Tiga pemain Valenciennes diminta untuk tidak terlalu “serius” dan diminta untuk “santai” ketika bermain. Alhasil, Marseille memenangkan pertandingan tersebut dan berhasil menjadi juara French Division 1 (Ligue 1) Title untuk musim 1992-1993. Setelah memenangkan pertandingan tersebut, Marseille pun berhasil mengalahkan A.C Milan 1-0, dan menjadi klub Perancis pertama yang mengangkat trofi Champions League pada tahun 1993. Akan tetapi, pengaturan skor yang dilakukan oleh Marseille saat melawan Valenciennes F.C diketahui oleh pihak berwajib, karena salah satu tiga pemain yang disuap tersebut melaporkan tindakan tersebut kepada Manajer Valenciennes F.C.


Arranged Match-Fixing cenderung lebih mudah untuk terbongkar dan dibuktikan, berbeda dengan Gambling-Match Fixing. Hal ini disebabkan oleh pihak-pihak yang terkait dalam Gambling-Match Fixing, yang biasanya dilakukan oleh para anggota dan petinggi sindikat-sindikat kejahatan yang terorganisir atau Organized Crime, demi meraup keuntungan di pasar taruhan. Di dalam Gambling Match-Fixing, kemenangan bukanlah kunci untuk memenangkan perjudian, namun para pengatur skor lebih mementingkan perolehan skor yang diraih, karena untuk memenangkan perjudian tidak selalu berdasarkan menang-kalah. Pengatur skor dalam Gambling Match-Fixing tidak begitu mementingkan kemenangan salah satu tim, namun hanya mengatur skor yang akan diperoleh oleh kedua tim dalam pertandingan. Setiap pertandingan memiliki peluang atau lebih dikenal sebagai odd. Peluang ini dijadikan dasar bagi para penjudi untuk bertaruh di pasar judi. Pada umumnya, para pengatur skor akan menyogok klub yang memiliki peluang yang lebih besar untuk menang, dan akan bertaruh pada tim lawannya yang memiliki peluang lebih kecil untuk menang. Melalui cara ini, para pengatur skor yang terafiliasi dengan sindikat kejahatan terorganisir akan meraup keuntungan yang sangat besar. Para pengatur skor biasanya akan menghampiri dan melobi para pemain atau administrator dari kedua tim yang akan berlawanan, dan akan melibatkan wasit. Akan tetapi menurut Declan Hill selaku akademisi dan jurnalis yang ahli dalam kasus pengaturan skor, tingkat kesuksesan pengaturan skor lebih tinggi jika menyogok administrator klub yang akan bertanding. Administrator merupakan Manajer, Pelatih, dan Presiden dari klub sepak bola, dan pengaturan skor melalui penyuapan administrator klub memiliki tingkat kesuksesan sebesar 90,5%.


Kesuksesan pengaturan skor dengan menyogok administrator klub lebih tinggi jika dibandingkan dengan menyogok pemain (83,1%) atau wasit (77,8%). Hal ini karena Manajer atau Pelatih klub sepak bola dapat mengatur dan mengubah strategi tim yang akan bermain. Manajer dan Pelatih yang disogok biasanya akan membuat strategi yang blunder dan mudah ditebak oleh lawannya. Oleh sebab itu, jika pengatur skor dapat menyogok Manajer atau Pelatih klub sepak bola, bisa dikatakan bahwa pengatur skor berhasil mengontrol satu kesebelasan tersebut. Initnya, semakin banyak orang yang tidak berintegritas di dalam sebuah permainan, semakin tinggi kesuksesan pengaturan skor tersebut.


Pengaturan skor merupakan aib dalam sepak bola dan harus diusut dengan tuntas. Pengaturan skor merupakan musuh abadi sportivitas, dan telah merubah paradigma dimana sepak bola dahulunya merupakan sebuah ajang kompetisi yang baik, dan sebuah pesta olahraga bagi penggemar olahraga. Seperti halnya di Indonesia, lagi-lagi beberapa oknum baik di dalam maupun di luar PSSI terlibat dengan pengaturan skor di Liga 1, 2, dan 3. Tiada cara yang ampuh untuk menghilangkan dan menyembuhkan tindakan korupsi di dalam olahraga, selain menumbuhkan sifat jujur, memiliki integritas yang baik, menerapkan sifat anti-korupsi, serta menjunjung tinggi prestasi dan upaya Indonesia untuk meningkatkan kualitas sepak bola di Indonesia dan di dunia. Bung Hatta pernah berkata; “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur itu sulit untuk diperbaiki.”

7 views
 

©2020 by Panah Kirana. Proudly created with Wix.com