• Panah Kirana

Pengaruh Virus Corona Terhadap Ekosistem

Updated: 4 days ago



Pandemi virus corona (Covid-19) tentunya merupakan pandemi yang cukup menggemparkan dunia karena memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Dimulai dari bidang kesehatan, ketenagakerjaan, ekonomi, hingga dunia psikologi yang berfokuskan pada interaksi sosial para individu. Namun dibalik pengaruh-pengaruh tersebut, terdapat sebuah pengaruh yang cukup mengesankan karena adanya perkembangan yang baik di bidang ekosistem yang bisa dicakupkan sebagai lingkungan.


Banyak kegiatan manusia yang cukup menjadi titik perhatian para pecinta lingkungan. Hal tersebut menjadi sebuah persoalan, karena banyak hal yang mengubah ekosistem kehidupan dari makhluk hidup terkecil hingga terbesar. Rantai kehidupan tersebut menjadi terganggu dan dapat mengakibatkan beberapa eksistensi dari hewan dan tanaman yang terus terancam.


Selama pandemi ini, beberapa negara menerapkan kebijakan bagi warga negaranya dalam upaya meminimalisir penyebaran virus tersebut, misalnya seperti diadakannya karantina wilayah dan social distancing. Kebijakan terkait pandemi Covid-19 ini menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi lingkungan.

Berikut ini dampak positif Covid-19 bagi lingkungan:


  • Berkurangnya Emisi CO2

Covid-19 telah membuat orang-orang mengisolasi diri, mengubah perilaku dan pola keseharian mereka untuk menangkal atau menghindari wabah yang mematikan tersebut. Sejumlah tempat di-lockdown dan kegiatan lebih banyak dilakukan di rumah saja. Hal ini menimbulkan beberapa efek pada lingkungan. Ketika industri, jaringan transportasi, dan berbagai kegiatan bisnis dihentikan, maka yang dihasilkan adalah penurunan emisi karbon secara tiba-tiba. Aktivitas ekonomi menurun, seiring dengan penggunaan sumber energi utama (batu bara dan minyak bumi) juga menurun. Ujungnya, emisi karbon dioksida juga menurun.

  • Menarik perhatian pada perdagangan satwa liar dunia

Konservasionis berharap pandemi Covid-19 akan membantu mengekang perdagangan satwa liar global, yang menjadi penyebab kepunahan sejumlah spesies. Wabah ini kemungkinan berasal dari pasar hewan Wuhan, yang menjual hewan hidup dan merupakan pusat bagi satwa liar yang diperdagangkan secara legal dan ilegal. Perlu tindakan keras terhadap perdagangan satwa liar hidup.


  • Saluran air menjadi jernih

Negara Italia saat ini tengah menjalani kebijakan lockdown karena Covid-19 yang merebak di negara tersebut. Kebijakan itu membuat kanal-kanal di Venesia menjadi sepi. Pada biasanya, kapal-kapal kecil selalu membawa penumpang untuk menikmati indahnya kota Venesia. Sepinya kanal, membuat air di kanal-kanal itu menjadi jernih. Seorang pengguna Twitter berbagi gambar saluran air yang jernih, di mana ikan dan angsa menikmati waktu istirahat mereka dari kapal kargo, kapal pesiar dan gondola wisata.


  • Kualitas udara yang lebih baik

Covid-19 membuat manusia tak lagi bisa melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Jutaan kendaraan di dunia terparkir dan ribuan pabrik berhenti beroperasi. Ini membuat polusi mengalami penurunan untuk kali pertama dalam beberapa dekade terakhir. Disadari atau tidak, kondisi alam planet bumi kini membaik. Bahkan, citra satelit mengungkapkan adanya penurunan yang signifikan terhadap tingkat global nitrogen dioksida (NO2), yakni gas yang dihasilkan dari mesin mobil dan pabrik manufaktur komersil yang menjadi penyebab buruknya kualitas udara di banyak kota besar.


Namun, Covid-19 juga mempunyai dampak negatif bagi lingkungan sebagai berikut.


  • Peningkatan sampah plastik

Pada beberapa tahun terakhir, dunia digemparkan dengan terus diberikan edukasi untuk menjaga lingkungan. Dapat dispesifikan lagi, bahwa hal yang ditekankan merupakan sebuah gerakan untuk mengurangi limbah plastik yang terus menerus menumpuk. Plastik merupakan sebuah penemuan yang sungguh berguna bagi manusia namun merupakan suatu hal yang dapat menjadi masalah yang besar di masa depan. Sampah plastik menjadi sebuah perhatian besar di berbagai manca negara karena bahan plastik membutuhkan waktu yang lama untuk diurai secara alami dengan beberapa proses yang melibatkan mikroorganisme. Tidak hanya itu, penguraian plastik di alam juga dibantu oleh radiasi sinar matahari, panas, kelembapan, dan tekanan di dalam bumi. Diketahui oleh beberapa pakar biologis, uraian sampah plastik membutuhkan waktu sekitar 500-1000 tahun untuk dapat kembali menjadi sebuah bahan yang mentah yang nantinya dapat digunakan kembali.


Pada masa pandemi ini, pemerintah mengeluarkan sebuah regulasi untuk memutus rantai Covid-19 di tengah masyarakat. Regulasi tersebut dikenal sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal tersebut membuat banyak individu yang harus terus menerus melakukan segala kegiatan dan menetap di dalam rumah. Aktivitas di dalam rumah tentunya memiliki keragaman, dan tentunya banyak individu yang terus menerus mencari efektivitas dan kenyamanan di dalam rumah. Aktivitas di dalam rumah mendorong produksi sampah di rumah meningkat. Hal tersebut dapat dikatakan meningkat karena pada masa ini banyak orang berpikir bahwa plastik merupakan suatu hal yang efisien. Covid-19 tentunya membuat sebuah krisis kesehatan yang membuat banyak manusia memperhatikan lebih kepada kebersihan.


Pemesanan makanan dari luar, membeli bahan-bahan pangan dari toko, hingga pembelian barang secara online meningkat begitu pesat di masa pandemi ini karena banyak orang tidak dapat melakukannya secara langsung. Covid-19 yang diwaspadai dapat menular secara mudah, diatasi dengan pelapisan benda-benda yang akan dikirimkan dengan sebuah plastik. Maka dari itu, kegiatan-kegiatan tersebut menjadi sebuah hambatan bagi pemerintah untuk mengurangi limbah plastik.


  • Krisis iklim terabaikan sementara

Sebelum Covid-19 merebak di seluruh dunia, dunia memfokuskan sebuah sosialisasi dengan menunjukkan beberapa perubahan yang dialami dunia ini. Krisis iklim disebabkan oleh aktivitas melalui pemanasan global. Pemanasan global sendiri merupakan naiknya suhu bumi dalam jangka waktu yang lama, disebabkan gas rumah kaca yang terjebak di stratosfer sehingga memerangkap panas yang berdampak terhadap suhu pada permukaan bumi. Tidak hanya itu, pemanasan global juga disebabkan oleh beberapa aktivitas yang dilakukan oleh manusia melalui transportasi, aktivitas produksi bahan-bahan yang dihasilkan oleh pabrik, hingga pembakaran sampah.


Sosialisasi untuk meredakan krisis iklim ini, dilakukan oleh beberapa cara tentunya secara bersama-sama turun ke jalan dan melakukan demo kepada pemerintah untuk melakukan sebuah gerakan untuk membuat banyak orang dapat bekerja sama untuk membangun dunia ini. Pandemi ini membuat banyak kegiatan untuk sosialisasi secara langsung terhambat, di mana hal tersebut memicu terabaikannya krisis iklim di seluruh dunia untuk sementara.


Di era digital ini, tidak dapat disangkal bahwa sosialisasi tersebut dapat dilakukan secara online, melalui video, infografis maupun beberapa platform online lainnya. Platform media berita merupakan suatu hal yang berperan sebagai sebuah wadah informasi mengenai krisis iklim dunia. Namun dikarenakan berita yang terus menerus terangkat kepada publik juga ditutupi oleh berita Covid-19, yang merupakan sebuah kondisi genting yang terus menerus mengikat perhatian masyarakat. Akibat adanya Covid-19, krisis iklim yang terjadi di seluruh dunia tidak menjadi perhatian bagi masyarakat dan terabaikan sementara ini.


Melihat adanya dampak dari Covid-19 terhadap lingkungan, kita dapat melihat bahwa terkadang sebagai makhluk hidup hal-hal untuk membuat sesuatu lebih maksimal adalah melalui istirahat sementara. Pandemi ini memperlihatkan bahwa dunia ini harus dijaga melalui sebuah restorasi. Melalui sebuah tahap untuk membiarkan lingkungan kita beregenerasi secara pribadi tanpa adanya intervensi manusia. Namun, sebagai masyarakat yang menjadi salah satu subjek di dalam rantai lingkungan, kita juga tidak boleh terlalu lalai memikirkan hal-hal yang sedang menjadi sebuah keprihatinan dunia pada masa pandemi ini.


Melalui dampak-dampak tersebut kita dapat bersama-sama mengambil inisiatif untuk merefleksikan diri dan memikirkan tentang apa saja yang dapat kita lakukan ditengah pandemi ini untuk membantu sesama dan juga menjaga lingkungan kita setelah pandemi berakhir. Bukan hanya upaya dari individu saja, tetapi juga dari pemerintah dan para pelaku usaha. Selain itu, sebagai warga negara kita juga harus mematuhi setiap kebijakan yang ditetapkan pemerintah dalam upaya memerangi pandemi ini karena dengan adanya kerjasama dari tiap orang, maka wabah ini akan menjadi lebih mudah ditangani dan lebih cepat berlalu.


Penulis:

Gabriella Susanto, Jocelyn Lianto, dan Vania Madeline Jevera

 

©2020 by Panah Kirana. Proudly created with Wix.com